Menghitung Mundur Waktu Kita
Awan sedikit mendung, ketika kaki kaki kecil Yani berlari-lari gembira
di atas jalanan menyeberangi kawasan lampu merah Karet.
Baju merahnya yg Kebesaran melambai Lambai di tiup angin. Tangan
kanannya memegang Es krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulutnya
untuk dicicipi, sementara tangan kirinya mencengkram Ikatan sabuk
celana ayahnya.
… continue reading this entry.
Teguran Kecil Untuk Saya
Ketika merindukan seseorang, siapapun seolah menjadi sosoknya, suara apapun seolah suaranya, bayangan apapun seperti bayanganya. Terkadang orang jatuh cinta menjadi terbodoh dari yang paling bodoh dan menjadi terpintar diantara yang paling pintar.
“Kadangkala, bertemu dengan seseorang yang kita kagumi menarik kita ke dunianya yang tak pernah kita sentuh sebelumnya. Kadang, kita menjadi sepertinya dan menjadi apa yang ia ingin, agar membuat ia merasa senang. Padahal ‘mungkin’ jauh dalam jiwanya ia ingin sesuatu yang berbeda dari dirinya untuk memperkaya bathin hidupnya dan rasa jiwanya”
“Keterpesonaanku yang menggebu tak serta merta membuat mata bathinku menjadi buta. Karena pikiran jiwa bisa menjadi logis pada waktunya, akibat tempaan cobaan dan sandungan problema, ia bisa menjadi dewasa. Meski mata fisik menjadi butapun, ku yakin mata bathin dapat melihat kebenaran meski diselimuti awan kebingungan sekalipun” … continue reading this entry.
Permohonan Doa
Ya Allah, Amalku
merusakku, nafsuku menghancurkanku, syahwatku menghalangiku.Karena itu
aku mohon kepada-Mu seperti permohonan orang yang jiwanya berpaling
karena ditarik oleh harapan-harapannya, tubuhnya lupa karena urat
nadinya tidak bergolak. Hatinya diuji dengan banyak nikmat, jarang
se…kali hatinya merenungkan tempat kembalinya (akhirat).
… continue reading this entry.
Hati-hati bagi laki-laki yang masuk ke Toilet Wanita dalam pesawat
Seorang pria yang sedang mengadakan perjalanan dengan pesawat terbang tiba-tiba ingin buang air. Akan tetapi setiap kali ia pergi ke toilet, selalu saja toilet itu terisi. Seorang pramugari melihat keadaan ini. Ia lalu menganjurkan agar pria tadi menggunakan toilet wanita dengan catatan ia tidak boleh menekan tombol-tombol yang ada di dekat toilet tersebut.
Setelah pria tadi masuk ke dalam taoilet wanita, ternyata memang ada 4 tombol di dekat tissue toilet. Pada tombol-tombol tersebut tertulis huruf “WW”, “WA”, “PP” dan “ATR”. Karena Penasaran, Pria tadi tidak mengindahkan pesan sang pramugari dan mencoba menekan tombol-tombol tersebut. Dengan hati-hati ia menekan tombol “WW” dan seketika air hangat menyemprot pantatnya. Dalam hati ia berkata “Oh rupanya tombol ini berarti warm water (Air Hangat) untuk cebok… wah enak ya prempuan kalau ke toilet.” … continue reading this entry.
Impian menjadi seorang prajurit
Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jendral Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih dari cukup untuk dapat membwanya kemanapun ia mau. Untukitu ia bersyukur kepada Allah SWT dank arena ia adalah seorang anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa agar suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.
Sayang sekali…. Ketika saat itu tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat.Dia ditolak karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah yang tidak menjawab doanya. … continue reading this entry.
Menemukan Kedamaian Islam Dibalik Jilbab
Dulu… Saat Aku duduk di bangku SMA, Aku adalah seorang gadis cantik yang memakai rok pendek saat ke sekolah. Seperti umumnya gadis remaja yang lain, Aku menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Kehidupan Aku ketika itu hanya terfokus pada bagaimana menjaga penampilan Aku agar menarik di mata orang banyak.
Setelah Beberapa tahun, Aku mulai merasakan bahwa Aku selama ini sudah menjadi budak mode. Aku menjadi “tawanan” penampilan Aku sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengurungku dalam kehidupan yang serba glamour. Aku pun mulai mengalihkan kegiatanku untuk mengikuti aktivitas sosial dan mempelajari Agama Islam. … continue reading this entry.
Sebuah Persegi
Di suatu senja, duduklah seorang ibu yang sedang membantu anak-anaknya mengulang-ulang pelajaran mereka. Sang ibu memberi putra kecilnya yang berusia 4 tahun sebuah buku gambar agar tidak mengganggunya dalam memberikan keterangan terhadap pelajaran saudara-saudaranya yang lain.
Tiba-tiba sang ibu teringat bahwa dia belum menghadirkan makan malam untuk ayah suaminya (mertuanya), seorang yang sudah lanjut, dan hidup bersama mereka di sebuah kamar di luar bangunan rumah, yaitu di pelataran rumah. Adalah sang ibu melayaninya sesuai dengan kemampuannya, dan sang suami ridha dengan pelayanan terhadap ayahnya yang tidak meninggalkan kamarnya karena kesehatannya yang lemah.
Sang ibupun cepat-cepat memberi sang mertua makanan. Dan bertanya kepadanya, apakah sang ayah membutuhkan pelayanan lain, lalu dia pergi meninggalkannya.
Saat dia kembali ke tempatnya bersama dengan putra-putranya, dia memperhatikan bahwa anak bungsunya tengah menggambar lingkaran dan persegi. Dan meletakkan di dalam lingkaran dan persegi tersebut simbol-simbol. Maka sang ibupun bertanya: Apa yang kamu gambar?
Dia menjawab dengan penuh kecerdasan: “Sesungguhnya aku tengah menggambar rumahku yang nanti aku akan tinggal di dalamnya saat aku dewasa dan menikah.”
Jawaban si anak menggembirakan sang ibu. Lalu sang ibu bertanya: Di mana engkau akan tidur?” Si anakpun memperlihatkan kepada sang ibu setiap persegi dan berkata: “ini adalah kamar tidur….ini dapur … ini ruang tamu..” Dia menghitung-hitung apa saja yang dia ketahui dari ruang ruang di rumah.
Lantas dia meninggalkan satu kotak persegi yang sendirian di luar daerah yang telah dia gambar yang mencakup keseluruhan kamar.
Sang ibu pun terheran, dan berkata: “Lalu mengapa kamar ini ada di luar rumah? Terpisah dari kamar kamar yang lain?
Si anak menjawab: “Kamar tersebut untuk ibu, aku akan meletakkan ibu di sana, ibu akan hidup di sana sendirian sebagaimana kakekku yang sudah tua.”
Sang ibupun terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya!!!
“Apakah aku akan sendirian di luar rumah di pelataran rumah tanpa bisa bersenang-senang dengan berbicara bersama anak-anakku? Aku tidak bisa berbahagia dengan ucapan ucapan mereka, kebahagiaan mereka,dan permainan mereka saat aku lemah, tidak mampu menggerakkan tubuh? Siapa yang aku ajak bicara saat itu? Apakah aku akan menghabiskan sisa umurku sendirian di antara empat dinding tanpa bisa mendengar suara anggota keluargaku??
Maka sang ibu cepat-cepat memanggil pembantu, kemudian dengan cepat memindah perabotan ruang tamu yang biasanya merupakan ruang yang paling baik, kemudian menghadirkan ranjang ayah suaminya, lalu memindah perabotan ruang tamu ke dalam kamar sang kakek di pelataran rumah.
Di saat sang suami pulang, dia terperanjat dengan apa yang dia lihat, dan takjub, lalu bertanya apa penyebab perubahan ini?
Sang istri menjawab dengan air mata yang berlinangan di kedua matanya: “Sesungguhnya aku memilih ruang yang paling indah untuk kita hidup didalamnya jika Allah memberikan kepada kita umur sampai usia lanjut yang lemah untuk bergerak. Dan biarlah tamu berada di ruang luar di pelataran rumah.”
Sang suamipun faham apa yang dimaksud oleh sang istri, lalu memuji perbuatannya terhadap ayahnya yang tengah melihat kepada mereka dengan senyuman dan pandangan mata keridhaan. Sementara sang anak… dia menghapus gambarnya… dan tersenyum.
Harumnya Makam Masyithah
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, sayapun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?”
Jibril menjawab, “Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut putri Fir’aun (Masyithah) dan anak-anaknya.”
Putri Fir’aun berkata, “Hai, dengan nama bapakku?”
Masyithah berkata, “Bukan, Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapakmu.”
Putri Fir’aun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?
Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya.”
Anak putri Fir’aun berkata, ‘Akan aku laporkan pada ayahku.’
Wanita tukang sisir menjawab, ‘Silahkan!’
Putri Fir’aun kemudian melaporkan kepada bapaknya, dan Fir’aunpun kemudian memanggil Masyithah.
Fir’aun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai tuhan selain aku?”
Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”
Kemudian Fir’aun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.
Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Fir’aun, “Saya mempunyai satu permohonan.”
Fir’aun menjawab, “Katakanlah.”
Masyithah berkata, “Saya ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain/kantong untuk kemudian dikuburkan.”
Fir’aun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu.”
Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.
Si bayi diatas gendongan Masyithah, atas izin Allah tiba-tiba berbicara, “Terjunlah Ibu! Ayo terjunlah, adzab dunia lebih ringan daripada adzab Akhirat.” Mendengar anaknya berbicara si ibupun langsung terjun bersama bayinya.
Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4/291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1/65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Fir’aun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?
Resign
Temen-temen…..
Kayaknya nda mau resign aja deh dari kerjaan nda yang sekarang. Maafin nda ya temen-teman….
Alasan nda resign…. sebenarnya karena ada yang nda temuin di garasi rumah nda. dan itu membuat nda ingin segera resign dari perkerjaan nda.
sebenarnya…. yang nda temuin itu…… … continue reading this entry.