Menemukan Kedamaian Islam Dibalik Jilbab

jilbab_4Dulu… Saat Aku duduk di bangku SMA, Aku adalah seorang gadis cantik yang memakai rok pendek saat ke sekolah. Seperti umumnya gadis remaja yang lain, Aku menikmati kehidupan yang serba gemerlap. Kehidupan Aku ketika itu hanya terfokus pada bagaimana menjaga penampilan Aku agar menarik di mata orang banyak.

Setelah Beberapa tahun, Aku mulai merasakan bahwa Aku selama ini sudah menjadi budak mode. Aku menjadi “tawanan” penampilan Aku sendiri. Rasa ingin memuaskan ambisi dan kebahagian diri sendiri sudah mengurungku dalam kehidupan yang serba glamour. Aku pun mulai mengalihkan kegiatanku untuk mengikuti aktivitas sosial dan mempelajari Agama Islam.

Sampai saat awal Aku masuk Kuliah Di Bogor EduCARE (BEC), dimana para mahasiswa dan mahasiswi-nya Ta’at beribadah dan berpegang teguh pada tali ajaran Agama Islam. Nilai-nilai Islam dan budaya Islam yang sangat kuat di BEC membuatku ingin lebih dalam lagi mempelajari Agama Islam.

Suatu hari, Aku mendengarkan teman kontrakanku membaca kitab suci Al-Quran, kitab suci yang selama ini jarang sekali ku baca. “Awalnya, Aku hanya mendengarkan temanku melantunkan alunan Ayat suci Al-Quran dan Aku mulai tertarik membacanya kembali dan mentadabur Al-Quran untuk mengetahui tentang eksistensi, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan yang diciptakan.

Akhirnya, Aku benar-benar menemukan sebuah kebenaran, Aku mempelajari Agama Islam dimana Aku merasa hidup damai sebagai seorang Muslim yang taat. Beberapa bulan kemudian, Aku mulai mengenakan busana Muslim lengkap dengan jilbabnya.

Aku membeli pakaian panjang yang bagus dan kerudung seperti layaknya busana Muslim dan Aku berjalan di jalan dan lingkungan yang sama, dimana beberapa bulan sebelumnya Aku berjalan hanya dengan celana pendek, rok mini atau pakaian lain yang ‘elegan’

Orang-orang yang Aku jumpai tetap sama, tapi untuk pertama kalinya, Aku benar-benar menjadi seorang perempuan. Aku merasa terlepas dari rantai yang membelenggu dan akhirnya menjadi orang yang bebas.

Setelah mengenakan jilbab, Aku mulai ingin tahu tentang Niqab. Aku pun bertanya pada Murobbiku. apakah Aku juga selayaknya mengenakan niqab (pakaian muslimah lengkap dengan cadarnya) atau cukup berjilbab saja. Murobbiku menjawab, bahwa jilbab adalah kewajiban dalam Islam sedangkan niqab (cadar) bukan kewajiban.

Media massa banyak memberitakan pernyataan dari para politisi, pejabat, kelompok aktivis kebebasan dan hak asasi manusia yang mengatakan bahwa niqab adalah penindasan terhadap perempuan, hambatan bagi integrasi sosial dan belakangan seorang pejabat Mesir menyebut jilbab sebagai “pertanda keterbelakangan”

Aku melihatnya sebagai pernyataan yang sangat munafik. pemerintah dan kelompok-kelompok yang katanya memperjuangkan hak asasi manusia berlomba-lomba membela hak perempuan ketika ada pemerintah yang menerapkan kebijakan cara berbusana, tapi para ‘pejuang kebebasan’ itu bersikap sebaliknya ketika kaum perempuan kehilangan haknya di kantor atau sektor pendidikan hanya karena mereka ingin melakukan haknya mengenakan jilbab atau cadar.

Sampai hari ini, Aku tetap seorang feminis, tapi seorang feminis yang Muslim yang menyerukan pada para Muslimah untuk tetap menunaikan tanggung jawabnya dan memberikan dukungan penuh pada saudara mereka agar juga menjadi seorang Muslim yang baik. Membesarkan dan mendidik anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang berkualitas sehingga mereka bisa menjadi penerang dan berguna bagi seluruh umat manusia.

Menyerukan kaum perempuan untuk berbuat kebaikan dan menjauhkan kemunkaran, untuk menyebarkan kebaikan dan menentang kebatilan, untuk memperjuangkan hak berjilbab serta berbagi pengalaman tentang jilbab bagi Muslimah lainnya yang belum pernah mengenakannya.

Tapi mengenakan jilbab adalah pilihan pribadi dan tak seorang pun boleh menyerah atas pilihan pribadinya sendiri.

& Komentar »

  1. neng uus Berkata:

    semoga anti mendapatkan jawaban yang terbaik dari Alloh,, keep istiqomah,, jngan ubah penampilan hanya karena melihat trend di tv atau media lainnya..
    kalo anti mau pake niqab, ana punya teman yang bisa membuatkannya, plus purdahnya.. ana juga berniat pake niqab,,meski dah punya niqabnya tapi ana belum siap,, doakan saja ya ukh,,,

  2. ikhwansolihin Berkata:

    untuk menemukan jati diri seseorang memang memerlukan proses dan waktu yang sangat panjang tapi jika kita istiqomah dalam memperjuangkannya insyaAllah semuanya akan bermuara pada sumber kebahagiaan. Sebenarnya jika kita tahu cara untuk menjalani hidup ini insyaAlloh semuanya tidak sulit untuk dijalani. Teruslah berserah diri dan memohon petunjuk kepada Allah SWT. Keep Istiqomah….!

  3. nuning rachmawati Berkata:

    ana teman teteh uus yang memberikan komentar,, setau ana yah ukh bahwa tentang niqab itu adalah suatu yang wajib.. mungkin ana tak pantas berkata seperti itu karena ana pun belum berhijab syar’i (cadar) tapi keinginan untuk bercadar sudah sangat tertanam dalam diri ana, dan keyakinan bahwa itu suatu kewajiban benar2 ana yakini..anti dapat melihat tafsir dari surat al ahzab ayat 59, jilbab di ayat itu bukan hanya sekedarbaju lorong untuk menutupi seluruh tubuh dan kepala tapi termasuk ke dalamnya adalah muka dan telapak tangan. jika kita melihat dari 4 imam mahzab, mereka semua mewajibkan karena itulah qowl yang paling shahih.. anti pun dapat melihat tafsir al ahzab ayat 55 tentang kpd siapa saja kita boleh menunjukkan wajah kita. anti juga dapat membaca buku tentang hukum cadar penyusunnya adalah syekh muhammad bin sholih al utsaimin.. andai kita bisa bertemu tentu ana akan perkenalkan kepada anti teman2 ana yang sudah bercadar agar anti dapat bertanya kepada mereka. dulu ana selalu berfikir kenapa orang2 yang bercadar itu mau istiqomah dengan cadarnya pahadal kata orang itu sunah yang artinya boleh tidak dikerjakan boleh dikerjakan dengan kata lain boleh buka tutup tapi setelah tau itu wajib ana ingin sekali untuk menggunakannya. mohon doanya. tetaplah istiqomah ukhti!!!!


{ Pengumpan RSS untuk komentar di postingan ini} · { URI Lacak Balik }

Tinggalkan sebuah Komentar