Impian menjadi seorang prajurit

Ada seorang anak laki-laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jendral Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri-ciri yang lebih dari cukup untuk dapat membwanya kemanapun ia mau. Untukitu ia bersyukur kepada Allah SWT dank arena ia adalah seorang anak yang takut akan Allah dan ia selalu berdoa agar suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali…. Ketika saat itu tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat.Dia ditolak karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Allah yang tidak menjawab doanya.

Ia merasa seperti seorang diri. Dengan perasaan yang kalah dan rasa amarah yang belum pernah rasakan sebelumnya. Amarah yang ditunjukannya terhadap Allah. Ia tahu bahwa Tuhan itu ada, namun tidak mempercayaiNya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai tiran (Penguasa yang lalim). Ia tidak pernah lagi berdoa dan melangkahkan kakinya ke dalam masjid. Ketika orang-orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan rumit yang akan membuat orang-orang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Beberapa tahun kemudian ia menjadi seorang dokter ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor dalam pembedahan yang beresiko tinggi, dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh dokter ahli bedah muda ini. Sekarang semua pasiennya memiliki kesempatan hidup baru. Selama bertahun-tahun ia telah menyelamatkan beribu-ribu jiwa, baik anak-anak maupun dewasa.

Setelah usianya bertambah tua, ia melatih para ahli bedah lain yang bercita-cita tinggi dengan tekhnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatka.

Hingga saat itu tiba, saat dimana ia menutup matanya dan menjumpai Allah SWT. Ia masih penuh dengan kebencian. Lalu ia bertanya kepada Allah SWT, mengapa doa-doanya tidak dijawab. Allah Berkata “Pandanglah ke langit anakKu, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan.”

Disana ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki-laki yang berdoa untuk menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Disana ia sombong dan ambisius. Dengan pandangan mata yang seakan-akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin resime. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangan yang pertamanya. Akan tetapi ketika ia berada di kamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan ke dalam peti kayu untuk dikirim kembali ke keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping-keping. Saat orang tuanya menangis dan terus menangis. Lalu Allah Berkata “Sekarang lihatlah bagaimana kini rencana-Ku telah terpenuhi, sekalipun engkau tidak setuju.” Sekali lagi ia memandang ke langit. Disana ia memperhatikan kehidupannya dan bebarapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum di wajah pasiennya dan di wajah anggota keluarganya.

Kemudian diantara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki-laki yang juga memiliki impian menjadi prajurit kelak. Namun sayangnya anak tersebut terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia menyelamatkan nyawa anak laki-laki tersebut melalui pembedahan yang ia lakukan. Kini anak laki-laki tersebut telah dewasa dan menjadi seorang jendral.

Sampai disitu ia tahu bahwa Allah ternyata selalu berada bersamanya. Ia mengerti bagaimana Allah telah memakainya sebagai Alat-Nya untuk menyelamatkan beribu-ribu jiwa dan memberikan masa depan kepada anak laki-laki yang ingin menjadi prajurit itu.

Tinggalkan sebuah Komentar